Karakter Imam Ali dalam Sejarah versi Ideologi Shia

Setiap sejarah selalu berkaitan dengan pelaku, waktu, dan tempat kejadian. Tempat dibatasi wilayah. Waktu berjalan dalam rentangan tertentu. Pelaku dengan perjalanan hidup dan karakternya.

Salah satu tokoh utama dalam sejarah perjuangan Islam adalah Imam Ali karramallah wajhah.

Siapakah Imam Ali k.w..? Seluruh ahli sejarah sepakat bahwa beliau adalah figur utama dan tokoh sentral dalam Islam. Termasuk dalam jajaran orang yang pertama memeluk Islam. Sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAWW. Suami dari penghulu wanita surga yaitu Fatimah Azzahra’. Bapak dari cucu-cucu Rasulullah SAWW. Beliaulah salah satu dari ahlul kisaa’. Baliau yang mendapat kehormatan gelar karramallah wajhah.

Beliau dilengkapi dengan segala keutamaan. Baik dari segi keilmuan, ahli hikmah, keluhuran budi, bijaksana, jiwa yang penuh sifat kesatria, pakar strategi, hingga kekuatan fisik dan kepiawaian bertempur. Terlalu banyak bukti sejarah untuk mendukung karakter tersebut. Tidak ada kontroversi.

Beberapa ciri karakter seorang kesatria adalah sifat konsisten, teguh memegang amanah, berani menghadapi masalah. Salah satu pujian yang datang dari lawan adalah saat pemuka kaum Quraisy begitu ta’jub melihat Imam Ali k.w dalam usia yang begitu muda telah berani tidur di pembaringan Rasulullah SAWW yang sedang diintai pembunuhan.

Imam Ali k.w. adalah seorang pejuang. Selalu berdiri di barisan depan kaum muslimin di medan pertempuran. Dengan Dzul Fiqar nya beliau termasuk dalam tiga pahlawan yang maju dalam pertempuran pembuka Badar disamping asadullah Hamzah dan Ubaidillah. Dan banyak lagi peran penting Imam Ali k.w. sebagai pejuang sejati.

Kekuatan karakter beliau menonjol baik di saat suka maupun duka. Dalam kelapangan maupun di dalam situasi sulit. Pada masa damai, saat perang, atau pun masa-masa penuh fitnah. Konsisten dalam ucapan dan tindakan.

Tetapi bagaimanakah karakter Imam Ali k.w. menurut sejarah versi ideologi Shia? Meskipun ideologi Shia memproklamirkan diri sebagai pendukung setia Imam Ali k.w., Ideologi Shia secara implisit menggambarkan Imam Ali k.w. sebagai seorang yang serba bimbang, penakut, tidak berani mengambil resiko, memilih bersembunyi dan menghindari rintangan yang menghadang.

Menurut ideologi Shia, Imam Ali k.w. memilih berdiam diri dari berbagai problem. Berdiam diri dari sekian banyak tantangan dari para sahabat Nabi SAWW terutama Umar ibn Khattab. Mulai dari isu wasiat, jabatan khalifah, penghapusan ayat-ayat Al Quran, pengharaman mut’ah oleh Umar ibn Khattab, dan lain-lain.

Demikian seterusnya kehidupan Imam Ali k.w. dalam sejarah versi Shia. Sebuah gambaran karakter penakut, pesimis, tanpa inisiatif, tak berdaya, butuh belas kasih, suka bersembunyi, sehingga mudah teraniaya, fragile, mudah didhalimi, demikian hingga akhir hayat beliau. Duapuluh empat tahun (perhitungan dari wafatnya Rasul SAWW hingga Imam Ali k.w. meninggal) Imam Ali k.w. selalu ber-taqiyyah dalam kondisi serba lemah.

Imam Ali k.w. oleh ideologi Shia tetap berkarakter lemah meski pada saat menduduki jabatan khalifah sekalipun. Sedangkan masa itu Umar ibn Khattab dan Abu Bakar Asshiddiq telah wafat.

Dengan segala keutamaan ilmu, budi, dan fisik beliau ditambah posisi menjabat sebagai khalifah, masih tersisakah alasan beliau untuk tetap berdiam diri, penakut, dan tidak menegakkan hak-hak dan hukum Allah?

Menurut ideologi Shia, kondisi pribadi Imam Ali k.w. yang terus bertaqiyyah, berdiam diri dari segala problem, mendadak berubah ketika berselisih dengan Aisyah r.a. Imam Ali k.w. dalam kasus ini berani mengangkat senjata. Meninggalkan persatuan umat yang sering beliau jadikan alasan berdiam diri dari Umar ibn Khattab.

Inilah batas kepahlawanan seorang Imam Ali k.w.menurut ideologi Shia. Selalu berdiam diri (taqiyyah) dalam berbagai masalah, kecuali ketika menghadapi seorang wanita. Beliau berani mengangkat senjata.

%d bloggers like this: